Senin, 24 Mei 2010

Manusia dan Kegelisahan

Adalah manusiawi jika kita sebagai manusia pernah mengalami kegelisahan. Ya. Itu sangat awam dialami oleh orang pada umumnya, tidak terkecuali orangtua kita sekalipun. Semakin berat masalah atau pikiran yang harus ditanggung oleh seseorang maka semakin besar pula kemungkinan dari orang itu mengalami kegelisahan.

Saya pernah membuka sebuah blog dan ada artikel menarik yang di post kan disana, yaitu mengenai Mengapa kegelisahan banyak dialami oleh orang orang?.

Kegelisahan tidak jarang bersahabat dengan umumnya kita. Ada yang
gelisah karena faktor-faktor materi, ada juga yang bukan karena hal-
hal yang material. Mungkin kegelisahan itu disebabkan antara lain:
1. Kesulitan ekonomi
2. Takut kehilangan harta, jabatan dan popularitas
3. Penyakit yang menahun
4. Kesulitan mendapatkan pasangan hidup yang ideal
5. Takut kehilangan pasangan hidup
6. Khawatir gagal dalam berkarier
7. Dan lainnya

Jika kesulitan ekonomi dijadikan alasan sebagai penyebab utama, tentu
masih banyak saudara kita yang lebih parah ekonominya dari kita. Tapi
sebagian mereka masih bisa tersenyum, dan nyenyak tidur hanya dengan
beralaskan tikar di bawah jembatan dan di pinggir jalan. Mengapa kita
harus gelisah?

Jika kekhawatiran hilangnya harta, jabatan atau popularitas menjadi
penyebab kegeliasahan. Bukankah semua ini memang tidak kekal,
semuanya bersifat sementara. Padahal masih lebih banyak saudara-
saudara kita yang hidup serba pas-pasan, tidak punya jabatan, apalagi
popularitas. Justru mereka sering dihina. Tapi anehnya, sebagian
mereka masih bisa tersenyum dan nyenyak tidur di dalam rumah kontrakan
yang sempit dan pengap.

Jika pasangan hidup ideal yang menjadi penghalang kebahagiaan rumah
tangga, tentu kita saksikan banyak saudara-saudara kita tanpa pasangan
yang "ideal", tapi mereka bisa menikmati kebahagiaan dalam rumah
tangga. Mengapa kita harus gelisah hanya karena belum mendapatkan
pasangan yang "ideal" dalam pikiran dan khayalan kita. Bukankah
Rasulullah saw telah memberi tuntunan dalam mencari pasangan,
sekaligus kreterianya, cara memperolehnya, cara dan cara ... lainnya.

Kehilangan pasangan sering menjadi sebab kegelisahan bahkan banyak
menimpa kehidupan manusia, terutama kalangan istri. Semakin banyak
rizki dan harta yang diraihnya semakin besar kegelisan yang akan
menimpanya. Mengapa? Memang tidak sedikit terjadi melimpahnya harta
membuka peluang yang luas hilangnya kesetiaan pasangan suami-isteri.
Mungkin fenomena ini yang sering mendatangkan kegelisahan. Bahkan
tidak jarang sebagian isteri tak sanggup memejamkan matanya di larut
malam karena sang suami belum pulang. Pikirannya terbang melayang ke
alam yang negatif penuh curiga. Mengapa ini terjadi? Padahal
sebelumnya mengharapkan datangnya limpahan harta. Setelah harta
melimpah justru kegelisahan pun juga datang.

Pada dasarnya semua manusia mendambakan kebahagiaan, dan tidak
menginginkan kegelisahan. Kebahagiaan itu satu, dan kegelisahan juga
satu. Bisa diraih oleh setiap manusia yang kaya atau yang miskin, yang
punya jabatan atau yang jelata, yang ternama atau yang tak dikenal,
berpasangan atau yang belum, yang sehat atau sedang sakit, yang
berkarier atau yang belum. Sebaliknya kegelisahan juga bisa datang
pada setiap manusia dari semua lapisan dan tingkatan.

Kisah Tanggung Jawab Seorang Anak Kecil :)

Saya pernah membaca suatu artikel menarik yang dikirim lewat email oleh teman saya. Setelah dilihat lagi, ketika mendapat tugas IBD tentang Manusia dan Tanggung Jawab, saya jadi teringat akan kisah itu. Mungkin akan saya jadikan bahan untuk menulis tugas ini agar bisa di share dengan yang lain :)

Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.

Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.

Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggung jawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit.
Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua diakerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya.
Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.

Aku Mau Mama Kembali.
Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, “Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!” demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.

Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat kata belece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yg istimewa untuk menjalani ujian di dunia. Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan keluarnya… ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya. Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan…

Bangkitlah! Karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.


Senin, 17 Mei 2010

resensi buku bagus, tentang pengalaman spiritual

Judul Buku : Bila Nurani Bicara: Pengalaman Spiritual Penghangat Jiwa
Penulis : Amelia Naim Indrajaya

Kegiatan melakukan pengamatan, merasakan, dan terlibat langsung dalam lingkungan merupakan pengalaman relatif tak ternilai bagi setiap orang. Bahkan kalau mampu menangkap peristiwa yang terjadi pada lingkungan sekitar sembari mengendapkannya ke alam bawah sadar kita dan lalu menuliskannya dari sisi spiritualitas makna, maka lahirlah suatu karya penggugah dan penghangat jiwa. Lahirlah suatu karya yang mampu menggetarkan sisi-sisi spiritualitas pembacanya.

Hal ini akan segera kita temui dan rasakan saat membaca buku Bila Nurani Bicara: Pengalaman Spiritual Penghangat Jiwa karya Amelia Naim Indrajaya. Uniknya melalui bukunya ini Amelia memperkenalkan kepada kita suasana kota kecil Boulder, Colorado di Amerika Utara lengkap dengan suasana lembah ngarai dan gunungnya (lewat visualisasi gambar). Buku yang kata pengantarnya disampaikan oleh Taufik Ismail ini akan memberikan kehangatan jiwa dan menyentuh perasaan pembacanya, seperti diinginkan Amelia penulisnya.

Pertama-tama Amelia menuturkan betapa dunianya seakan runtuh saat Dr. Zerrin (dokter di Mapleton Rehabilitation Center) memvonis anaknya mengalami disfungsi minimal otak. Bagaimana tidak menurut dokter anaknya akan mengalami disleksia, diskalkulia, disgrafia dan lain-lain kelainan persarafan. Sehingga untuk itu anaknya memerlukan terapi berkelanjutan. Terang saja hal ini membuatnya berontak seolah tak menerima takdir yang harus ditanggungnya. Namun belum lama dia menekuri nasib hidupnya, di klinik dia bertemu dengan sepasang keluarga dengan tiga anak yang mengalami Cerebral palsy. Kelainan yang menimbulkan gangguan pada motorik kasar, motorik halus dan gangguan bicara dan lain-lain gangguan. Tiga sekaligus, bukan satu, jadi Amelia masih lebih beruntung. Meskipun begitu keluarga dengan tiga anak yang mengalami cerebral palsy ini tetap tabah dan tulus merawat anak-anaknya. “Do you know that special kids are given to a special parents,” kata orangtua anak dengan cerebral palsy tadi dengn bangga menjadi orangtua spesial bagi ketiga anaknya yang spesial. Amelia pun tersadar bahwa memang special parents for special kids, seperti orangtua dengan anak cerebral palsy dan dirinya yang terpilih menjadi orang tua spesial karena anaknya mengalami disfungsi minimal otak--anak spesial.

Amelia juga menuturkan tentang pengalamannya di suatu musim gugur didatangi tamu petugas pelayanan sosial. Petugas ini mendatangi tempat tinggal Amelia karena mendapatkan laporan dari klinik anak kepunyaan Bolder County, bahwa anaknya sudah beberapa bulan berat badannya di bawah kurva normal. Petugas menyebut anaknya mengalami “failure to thrive” (gagal tumbuh—peresensi). “Bukannya kami curiga atau menuduh, tapi sudah merupakan peraturan di sini untuk memantau perilaku orangtua dalam mengasuh anaknya...memang prosedur baku kami dalam memastikan bahwa hak seorang anak di negara ini terpenuhi,” kata petugas, membuat Amelia merasa dicurigai tak becus dalam mengasuh anaknya. Anaknya harus masuk day care center yang ditanggung pemerintah (social service department). Dan ini yang membuatnya heran, seorang anak yang notabene sehat untuk menaikkan berat badannya menjadi normal akan disubsidi oleh negara lebih dari 1000 USD. Sebab baginya jika ini terjadi di Indonesia tentu akan menyebabkan negara bangkrut. Begitulah yang dialami Amelia di Boulder dengan anak “failure to thrive” harus mengikuti kursus parenting gratis, ikut serta dalam Support Group for Moms with Failure to Thrive Babies. Tapi akhirnya, anaknya menjadi bayi favorit di klinik dan menjadi kesayangan dokter. Lebih-lebih anaknya pada akhirnya menjadi cover boy buku teks “Baby Undernutrition”.

Tentang doa berantai, Amelia menceritakan dirinya yang mengalami alergi karena udara yang terlalu dingin. Tetangganya menawarkan alternatif untuk mengatasi alergi pada kulit tangan yang dideritanya. “Saya mempunyai kelompok doa yang sangat solid...Setiap kali kami menjumpai seseorang yang membutuhkan pertolongan dan doa, maka kami akan teruskan pada anggota kelompok lainnya. Kurang lebih seperti ini jalannya. Saya punya jaringan langsung pada sepuluh orang ibu. Masing-masing ibu punya jaringan lagi pada sepuluh orang lainnya. Demikian seterusnya. Jadi bila kamu mengizinkan, maka segera di seluruh negara bagian orang-orang akan ikut serta mendoakan unuk kesembuhan tanganmu,” demikian tetangganya menuturkan jalannya doa berantai. Mengingatkan Amelia tentang perlunya saling mendoakan dan memohonkan kepada Allah satu sama lainnya.

Masih banyak lagi cerita yang menghangatkan jiwa yang dipersembahkan Amelia buat para pembaca. Seluruhnya ada dua puluh bagian cerita terpisah. Menarik dibaca oleh orangtua, anak-anak remaja dan siapa saja yang tertarik dengan suguhan penghangat jiwa penggugah semangat. Kita tidak akan bosan membacanya. “Bahasanya terpelihara, pengamatannya teliti, dan empatinya halus,” kata Taufik Ismail mengantarkan buku ini.

“Hal-hal yang diungkapkannya mungkin terkesan sepele, sehari-hari, tapi tetap menarik, dan membawa perenungan tersendiri,”komentar Helvy Tiana Rosa senada dengan pernyataan Taufik Ismail.

Begitulah, cerita kehidupan dari seorang Amelia dari sebuah kota Boulder, Colorado, Amerika Serikat yang dingin. Lika-likunya—dan kedua putranya-- menyertai sang suami belajar di University of Colorado at Boulder.

Akhirnya, semilir angin lembah ngarai Colorado bertiup lamat-lamat mengalirkan kedamaian dan kebahagiaan ke relung hati keluarga Amelia dan suaminya Indrajaya Januar. Setelah penuh perjuangan mereka kembali ke tanah air. Tapi masih menyisakan kerinduannya pada alam Colorado.

cerita kebajikan :)

Menyebar Bibit-Bibit Kebajikan

Oleh: Sramanera Sakya Sugata

Terdapat suatu kisah inspiratif bagi kita semua, yang mungkin terjadi di setiap negara dimana ada ‘Pahlawan Lingkungan’ berada, guna memberikan sumbangsihnya pada Dunia yang sedang berjuang melawan Global Warming.

Puluhan tahun yang lalu, sekelompok anak pencinta lingkungan, menyadari bahwa ada sebagian gunung yang telah gundul, dan gersang, dimana tidak ada lagi pohon-pohon besar yang tumbuh di sana. Tempat mereka bermainpun semakin sedikit dan tidak lagi seindah dahulu.

Suatu hari, pada saat menjelang malam, Dalam perjalanan pulang, mereka berpapasan dengan seorang kakek tua yang sedang tertatih-tatih membawa skop kecil dan sebuntal karung, diam-diam mengali setiap tanah yang dilewatinya, setiap kali berpapasan dengan mereka, kakek tua itu hanya tersenyum sendiri dan bernyanyi seorang diri, tanpa memperhatikan kehadiran mereka sang kakek terus melanjutkan pekerjaannya. Anak-anak yang melihat tingkah lakunya berpikir bahwa kakek itu mengalami ganguan jiwa dan segera meninggalkannya.

Waktupun terus berlalu, akhirnya mereka baru menyadari kehadiran sosok kekek tua itu hanya muncul di waktu menjelang senja. Suatu hari mereka karena rasa penasarannya mengikuti setiap gerak-gerik kakek tua itu. Dengan bernyanyi riang dan dengan penuh hati-hati kakek tua itu mengali lubang di tanah dan kemudian mengambil sesuatu dari karungnya dan kembali menimbunnya kembali dengan tanah yang digalinya. Demikian setiap tiga langkah kakek itu akan berhenti dan melakukan pekerjaan yang sama.
Sampai akhirnya malam pun menjelang, kakek tua itu kembali pulang dengan tertatih2. Esok harinya Anak-anak yang penasaran kembali menguntili si kakek dan mereka segera pengerubungi kakek tua itu dengan berbagai pertanyaan.
“Kakek tua, apa yang kakek lakukan setiap malam di gunung yang tandus ini?” tanya seorang anak.
Si kekek pun menjawab ringan:”Cucuku tidakkah kau sadari gunung ini bertambah gundul? Sejak kakek dilahirkan, ketika kakek seumuran kalian hutan inilah yang menjadi tempat bagi kami untuk bermain, tetapi sekarang karena keserakahan manusia, semua binatang pun kehilangan habitatnya.” Sambil menyeka keringat kakek itu melanjutkan ceritanya:”Sebelum saya meninggal sia-sia, setidaknya saya telah melakukan hal yang berarti untuk kalian kelak, setiap malam hari saya menanam banyak bibit pohon di sini, Di kaki gunung ini setidaknya saya telah menyebar ratusan ribu bibit pohon, mungkin hanya sepersepuluhnya yang dapat bertahan hidup, dan mungkin yang dapat menjadi pohon yang besar hanya sepersepuluhnya juga dari yang bertahan hidup. Mungkin saya tidak akan dapat melihat mereka tumbuh besar dan menjadi pohon yang besar untuk menghiasi hutan ini kembali, karena usia yang sudah sangat renta ini, tetapi setidaknya saya dapat melihat mereka tumbuh berkecambah dan menjadi pohon kecil yang pasti suatu saat akan dapat kalian rasakan.”

Semua anak-anak yang mendengarkan cerita tersebut terdiam tanpa bahasa, orang yang mereka pikir mengalami gangguan kejiwaan ini, ternyata sosok manusia yang berhati mulia, dan tanpa disadari air mata mengalir membasahi pipi mereka, mereka semua tanpa di komando memeluk kakek yang tubuhnya sangat lemah tersebut, dan mereka segera membantu pekerjaan kakek demi mewujudkan harapan terakhirnya.

Tiga puluh tahun telah berlalu, anak-anak yang dulu kecil telah menjadi sosok dewasa, dan telah lama meninggalkan kampung halamannya untuk bekerja di daerah lain, suatu saat mereka kembali pulang untuk berkumpul reunian. Mereka terkejut dan mendapatkan pemandangan indah yang mereka saksikan, hutan gundul yang tandus telah menjadi hutan yang subur dengan pohon-pohon besar yang tumbuh dengan gagahnya. Mereka semua mengingat kembali kenangan saat mereka kecil tentang sosok Alm Kakek Tua yang Berhati Mulia.

Cerita di atas hanya sepenggal cerita dari buku yang pernah saya baca.
Banyak cerita inspirasi dan motivasi yang sejenis, tetapi sudahkah kita merenungkan arti dan makna yang terkandung di dalamnya?

Dalam menjalankan kehidupan ini, banyak hal-hal kecil yang terdengar sepele yang kita tidak sadari manfaatnya yang besar, berapa sering kita menghabiskan waktu untuk memberikan kesenangan pada diri sendiri, sangat amat jarang memikirkan kepentingan orang banyak.

Jangan mudah menyerah dalam mengerjakan suatu hal, tetap kerjakan dan tidak perlu dipikirkan apa hasilnya, karena seperti cerita diatas puluhan ribu bibit yang disebar, seandainya sudah ada sepersepuluhnya yang berhasil sesuai dengan apa yang diinginkan itu sudah jauh dari cukup, tetapi harus tetap semangat menyebar terus bibit-bibit kebajikan.

Kebanyakan dari kita sering melihat dan menilai seseorang dari tampak luarnya, jarang sekali untuk mengerti pemikiran orang lain, sifat yang sesungguhnya dari orang lain, karena kita sendiri sering tidak mengenal diri sendiri.

Kesalahpahaman memang sering terjadi dalam dunia ini, kita sering diam-diam melakukan hal yang positif tetapi dinilai orang sebagai sesuatu yang negatif, jangan khawatir dan jangan menyerah, selama kita melakukan sesuatu yang benar, tidak merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain, teruskanlah pekerjaanmu.
Segala bibit yang ditanam dan disebarkan pasti akan ada hasilnya.

Jangan ragu untuk terus berbuat kebajikan selama kebajikan itu akan bermanfaat bagi dirimu sendiri dan orang lain. Selama buah dari perbuatan baik itu tidak dapat kau nikmati saat ini, tetapi itu tetap akan berbuah di masa mendatang.
Demikianlah di bawah ini ada syair penutup yang saya buat tentang menanam:

Petani menanam padi untuk disajikan sebagai nasi di meja makan kita.
Tukang kebun menanam buah untuk memenuhi kebutuhan gizi atas konsumsi buah kita.
Peladang menanam palawija untuk kebutuhan sayur mayur kita.
Peternak menanam kotoran hewan dan sampah organik untuk menjadi pupuk alami.
Pendendam menanam bibit kebencian yang hanya akan memperpanjang siklus dendam dan benci.
Pemarah menanam bibit emosi kemarahan yang hanya akan menunggu waktu meledaknya pembuluh darah.
Perampok menanam kekayaan orang lain yang tidak dapat dinikmati hasilnya dengan tenang dan bahagia.
Pemalas menanam bibit kemalasan yang tidak akan menuai keberhasilan dalam hidupnya.
Pelajar menanam bibit kepandaian untuk menjadi seorang terpelajar.
Pembuat kebajikan akan menanam bibit-bibit unggul kehidupan, yang suatu saat akan menjadi pelindungnya yang memberikan kebahagiaan tiada tara.
Pelatih Sang Jalan menanam bibit dharma untuk memperoleh kebijaksanaan nantinya.

Apa yang kau tanam itulah yang akan kau petik pula….
tanamlah sebanyak-banyaknya bibit unggul nan subur
sehingga bila masa panen tiba,
buah kebahagiaan tidak akan pernah habis kau petik.

Jangan pernah selalu membandingkan tanaman orang lain dengan tanaman kita sendiri…
masing-masing orang memiliki cara dan perawatannya sendiri
rawatlah bibit dan tanaman kita sendiri, kembangkanlah taman hati kita…
agar selalu dipenuhi dengan bunga-bunga keindahan jiwa…
yang akan memancar dan memberikan keharuman pada siapapun yang dapat merasakannya.
Hanya mereka yang mengerti hal ini akan saling menghargai sesama…
bersama dalam merawat taman surga di dunia…….
Taman kebajikan yang muncul dalam setiap insan.

tentang CITA-CITA?? :D

Kalau dahulu saat masih kecil kita sering ditanya apa cita-citanya, mungkin dengan lantang dan yakin kita akan menjawab dokter, pilot, atau insiyur hehehe sangat umum untuk anak anak menjawab pertanyaan itu.

Tapi semakin kita tumbuh besar, saya pun merasakan betapa sulitnya untuk memutuskan apa cita-cita kita sebenarnya yang ingin dicapai. Kadang seiring dengan perkembangan jaman, perkembangan usia juga, pemikiran pemikiran dan pertimbangan kita untuk hal yang disebut CITA -CITA ini juga semakin meluas. Saking luasnya sampai sampai kebingungan kalau harus ditanya sebenarnya apa yang kita inginkan kelak. Mengikuti perkembangan model saat ini, kita ingin menjadi apa yang menjadi trend saat ini, ada trend baru lagi kita pun ingin menjadi yang lebih baru lagi. Hehehehe memang plin plan, tapi mungkin itulah yang banyak dirasakan orang orang ketika cita cita mulai dipertanyakan.

Tapi sebagai manusia yang memiliki tujuan hidup, cita cita sangat dibutuhkan sebagai motivasi kita untuk dihari depan. Jika kita tidak memiliki cita cita, sama saja kita tidak memiliki kemauan, dan apa guna orang yang kemauan pun ia tidak punya?? Maka dari itu, pikirkanlah apakah yang sebenarnya kita inginkan dimasa depan, yang sering disebut cita cita, tanamkan itu sebagai pacuan dan motivasi kita untuk fokus pada apa yang kita inginkan. Amin, semoga saya pun mendapatkan cita cita yang benar benar saya inginkan :)